DPP LDII Kunjungi PP Muhammadiyah, Perkuat Ukhuwah dan Sinergi Umat - PotretKita Online

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Senin, 19 Januari 2026

DPP LDII Kunjungi PP Muhammadiyah, Perkuat Ukhuwah dan Sinergi Umat

 


JAKARTA Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menerima kunjungan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) pada Selasa, 13 Januari 2026 lalu di kantor PP Muhammadiyah, Jakarta. Kegiatan ini digelar sebagai bentuk silaturahmi sekaligus untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dan membangun sinergi antarorganisasi masyarakat (ormas) Islam demi kemaslahatan umat dan bangsa.


Rombongan LDII dipimpin oleh Ketua Umum DPP LDII, Chriswanto Santoso, sedangkan dari Muhammadiyah diterima langsung oleh Ketua PP Muhammadiyah, Saad Ibrahim, beserta sejumlah pimpinan lainnya. 


Dalam sambutannya, Saad menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut dan mengungkapkan pentingnya silaturahmi sebagai modal strategis untuk memperkuat hubungan antar ormas Islam. Ia menekankan bahwa pertemuan seperti ini menjadi peluang untuk saling belajar dan menguatkan potensi masing-masing organisasi demi manfaat yang lebih luas. 


Saad juga berharap hubungan baik ini terus berlanjut dalam bentuk kerja sama yang lebih konkret, khususnya di bidang keumatan, kebangsaan, dan isu-isu universal yang dihadapi masyarakat saat ini. Ia turut mendoakan agar pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) LDII yang akan datang dapat berjalan sukses. 


Sementara itu, Chriswanto mengakui peran besar Muhammadiyah sebagai gerakan pencerah bangsa dan menyatakan bahwa LDII banyak belajar dari pengalaman Muhammadiyah dalam pengelolaan lembaga sosial, pendidikan, dan kesehatan. Ia berharap pertemuan ini dapat memperkuat kerja sama dan kontribusi ormas Islam dalam menjawab berbagai tantangan yang dihadapi umat dan bangsa. 


Kunjungan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) ke kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada 13 Januari 2026 bukan sekadar agenda kedinasan atau seremonial. Ia mencerminkan sebuah dinamika baru dalam peta relasi ormas Islam di Indonesia, di mana ukhuwah Islamiyah tidak saja menjadi jargon retoris, tetapi juga kebutuhan strategis dalam menghadapi tantangan multidimensi umat dan bangsa.


Pertemuan ini, yang menurut pernyataan kedua pihak bertujuan mempererat tali persaudaraan dan membangun sinergi kelembagaan, menunjukkan ada keinginan eksplisit untuk menggeser paradigma relasi ormas dari kompetisi ke kolaborasi. Bila selama ini ormas-ormas Islam sering dipandang bergerak pararel dan tak selalu saling bersinggungan dalam aksi nyata, kunjungan tersebut menjadi sinyal bahwa kepentingan umat yang luas — dari sosial hingga kebangsaan — membutuhkan pendekatan kolektif antarlembaga.



Namun, kita perlu tajam membaca motivasi di balik ukhuwah tersebut. Apakah ini sekadar silaturahmi simbolik, atau upaya merumuskan kerja sama substantif yang berdampak konkret? Klaim kedua belah pihak tentang potensi kolaborasi, termasuk dalam pendidikan, kesehatan, dan pengelolaan amal usaha—terutama ketika Ketua Umum LDII menyatakan “kami banyak belajar dari Muhammadiyah”—mencerminkan kesadaran akan perbedaan kapasitas kelembagaan antara ormas besar dan ormas yang sedang naik daun. 


Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan jaringan amal usaha luas—dari sekolah dan universitas hingga rumah sakit—menjadi magnet bagi organisasi lain yang ingin memperluas dampaknya. Di sisi lain, LDII yang di berbagai wilayah aktif menjalin komunikasi kelembagaan, misalnya dengan Kementerian Agama untuk pelatihan dakwah dan pembinaan umat, menunjukkan ambisi membangun kekuatan kelembagaan yang lebih sistematis. Lembaga Dakwah Islam Indonesia


Tantangan nyata berada pada tingkat sinergi yang akan dijalankan. Ukhuwah yang hanya berhenti pada pertemuan meja bundar tidak otomatis menghasilkan perubahan sosial. Indonesia sebagai bangsa majemuk butuh ormas yang tidak hanya bersinergi secara administratif, tetapi merumuskan agenda bersama yang merespons problem nyata seperti ketidaksetaraan pendidikan, kesenjangan layanan kesehatan, hingga penguatan moderasi beragama di tengah polarisasi sosial. Ini mensyaratkan komitmen ideologis untuk saling terbuka terhadap metode kerja, transfer pengetahuan, serta pengakuan atas perbedaan paradigma dakwah. MUI


Lebih jauh, ketika khazanah ukhuwah Islamiyah menjadi gerak kolektif, relasi antara ormas seperti Muhammadiyah dan LDII bisa menjadi model koalisi lintas tradisi keagamaan yang produktif. Bukan hanya memperkuat basis dakwah internal umat Islam, tapi juga memperluas koalisi dengan elemen masyarakat lain dalam menanggapi tantangan kebangsaan. Ukhuwah yang bermakna bukan mengaburkan perbedaan, tetapi menjadikannya modal produktif dalam membangun kemaslahatan bersama. 


Kunjungan ini, oleh karenanya, mengundang pertanyaan lebih kritis: apakah ormas Islam kita cukup matang untuk menyerap pengalaman kelembagaan besar dan menerjemahkannya ke dalam aksi nyata di akar rumput? Atau apakah ukhuwah ini akan tetap menjadi ritual tahunan yang indah di atas kertas tanpa transformasi struktural pada cara berkolaborasi? Hanya waktu yang akan menjawabnya — namun momentum ini layak dipandang sebagai titik tolak menuju sinergi ormas Islam yang lebih strategis dan efektif, yang tidak hanya memperkuat internal umat, tetapi juga kontribusinya terhadap Indonesia yang lebih adil dan inklusif. Suara Muhammadiyah*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here