Trump Klaim AS Akan Ambil Alih Minyak Venezuela - PotretKita Online

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 14 Januari 2026

Trump Klaim AS Akan Ambil Alih Minyak Venezuela



VENEZUELA Pada awal Januari 2026, dunia menyaksikan sebuah peristiwa geopolitik luar biasa yang kelak akan dibahas serius oleh sejarawan dan analis politik: Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa Amerika Serikat berniat mengambil alih cadangan minyak Venezuela, menyusul operasi militer yang menyingkirkan Presiden Nicolás Maduro dan membawanya ke New York untuk diadili. Trump menyatakan akan melibatkan perusahaan-perusahaan minyak AS untuk memperbaiki infrastruktur minyak Venezuela dan “menghasilkan uang bagi negara itu.”



Venezuela, dengan cadangan minyak terbesar di dunia—sekitar 303 miliar barel atau hampir 17% dari cadangan global—bukan sekadar aktor kecil dalam pasar energi tetapi potensi kekuatan ekonomi dan strategis besar yang sudah lama tertidur akibat korupsi, salah urus, dan sanksi internasional. Pewarta Terbaru Trump menyampaikan rencana ini secara gamblang, tanpa bas-basinya diplomasi tradisional, bahkan mengaitkannya dengan rencana pengelolaan negara itu secara sementara oleh AS. 



Pertama, klaim ini mengaburkan batas antara bantuan dan dominasi. Trump dan sekutu utamanya berargumen bahwa keterlibatan AS diperlukan untuk memanfaatkan cadangan yang terabaikan dan membalikkan keruntuhan industri minyak Venezuela. Tetapi retorika “mengambil alih” sumber daya alam negara lain terdengar sangat mirip dengan praktik kolonialisme abad ke-19 atau intervensi militer untuk kontrol ekonomi, bukan untuk penegakan hukum seperti yang diklaim. Kritik keras pun bermunculan dari berbagai pihak yang menyebut tindakan ini sebagai bentuk imperialisme modern. The Washington Post



Selain itu, narasi Trump tentang kembali ke Venezuela untuk “memperbaiki” sektor energi menyiratkan bahwa negara pemilik sumber daya itu sendiri tidak mampu mengelolanya—sebuah pandangan yang sering digunakan dalam sejarah untuk membenarkan intervensi luar negeri atas nama pembangunan. Ini menutup kemungkinan pengembangan kapasitas lokal atau solusi yang dipimpin oleh rakyat Venezuela sendiri.


Isu Hukum Internasional dan Moralitas


Secara hukum internasional, setiap negara memiliki kedaulatan penuh atas sumber daya alamnya, termasuk minyak di dalam wilayahnya. Menurut prinsip Permanent Sovereignty over Natural Resources yang diakui PBB, klaim sepihak pihak luar terhadap aset semacam ini tidak berdasar tanpa persetujuan negara pemiliknya. Al Jazeera Trump tidak menunjukan legitimasi semacam itu, melainkan tindakan militer yang mengesankan upaya perubahan rezim sekaligus pengambilalihan sumber daya strategis.


Risiko Geopolitik dan Reaksi Global


Langkah semacam ini jelas menimbulkan gelombang protes di Amerika Latin dan komunitas internasional. Pemerintah di wilayah ini mengecam keras operasi militer dan potensi kontrol AS atas sumber energi yang secara geografis dan sejarah berada di jantung hemisfer mereka. Intervensi semacam ini tidak hanya memecah hubungan diplomatik, tetapi juga memicu ketidakstabilan regional dan potensi konflik yang lebih luas.


Realitas Ekonomi dan Tantangan Teknis


Lebih jauh lagi, klaim “ambil alih” minyak Venezuela juga tidak realistis secara ekonomi dalam jangka pendek. Sebelum krisis, produksi Venezuela sempat mencapai 3,5 juta barel per hari, tetapi kini hanyalah sekitar 1 juta barel per hari, akibat infrastruktur yang rusak parah. Bahkan dengan investasi besar sekalipun, mengembalikannya ke kapasitas semula akan membutuhkan waktu bertahun-tahun dan modal ratusan miliar dolar. dirgantaraonline.co.id Jadi, narasi serbuan cepat untuk mengeksploitasi minyak mentah secara efektif adalah lebih sebuah slogan politik daripada strategi ekonomi yang matang.



Pernyataan Trump bahwa AS akan “mengambil alih minyak Venezuela” adalah simbol ambisi geopolitik yang mencampuradukkan kekuatan militer, kepentingan ekonomi, dan klaim ideologis. Secara historis, campur tangan terhadap sumber daya negara lain—baik di Timur Tengah, Afrika, maupun Amerika Latin—telah sering menimbulkan konsekuensi panjang yang merugikan rakyat lokal dan menimbulkan konflik berkepanjangan.



Akan tetapi, klaim ini lebih daripada sekadar pernyataan tentang minyak; ia mencerminkan perubahan besar dalam cara kekuatan global besar melihat posisi mereka dalam era pasca-Perang Dingin—dimana dominasi langsung atas sumber daya strategis dianggap kembali relevan. Dan itu adalah sesuatu yang dunia tidak boleh abaikan begitu saja.


Tanpa Basa-Basi, Trump Klaim AS Akan Ambil Alih Minyak Venezuela


Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali membuat pernyataan yang mengejutkan dunia. Dalam konferensi pers di resor pribadinya Mar-a-Lago, Trump secara gamblang menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengambil alih pengelolaan minyak Venezuela setelah operasi militer besar-besaran yang menggulingkan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro. 


Menurut Trump, langkah tersebut dilakukan sebagai respons atas kondisi industri minyak Venezuela yang dinilai hancur akibat krisis berkepanjangan. Ia mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan minyak besar AS akan masuk, mengeluarkan miliaran dolar investasi, memperbaiki infrastruktur, dan mulai menghasilkan minyak demi kepentingan ekonomi AS dan Venezuela.


Trump juga menambahkan bahwa AS akan “mengelola” Venezuela untuk sementara waktu, setidaknya sampai transisi kekuasaan dianggap aman dan stabil. Dalam pernyataannya, embargo minyak Venezuela terhadap AS disebut masih tetap berlaku secara penuh, namun kontrol atas sumber daya strategis negara itu akan berada di tangan Washington. 


Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, diperkirakan mencapai lebih dari 303 miliar barel, setara sekitar 17% total cadangan global — fakta yang menjadi salah satu alasan kuat di balik ambisi penguasaan sumber daya tersebut. Pewarta Terbaru


Langkah Trump ini memicu reaksi keras dari negara-negara di kawasan dan dunia internasional. Brasil, Chile, Kolombia, Meksiko, Uruguay, dan Spanyol menyerukan kecaman keras, menyebut upaya AS untuk mengendalikan sumber daya strategis Venezuela sebagai tindakan yang “tidak sesuai hukum internasional” serta berpotensi mengancam stabilitas regional. DGo*

Baca Juga

https://www.potretkita.net/2026/01/alasan-serangan-militer-as-di-caracas.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here