![]() |
PADANG – Solidaritas yang Melampaui Batas Administratif: Membaca Makna Bantuan PGRI Bengkalis untuk Sumatera Barat
Bencana alam selalu menjadi ujian paling jujur bagi nurani kolektif sebuah bangsa. Ketika gempa, banjir, atau longsor melanda, yang runtuh bukan hanya rumah dan infrastruktur, tetapi juga rasa aman masyarakat. Dalam konteks inilah, langkah PGRI Kabupaten Bengkalis yang menyalurkan bantuan sebesar Rp420 juta kepada korban bencana di Sumatera Barat patut dibaca lebih dalam, bukan sekadar sebagai aksi filantropi, tetapi sebagai pernyataan sikap sosial dan moral.
Pertama, bantuan ini menegaskan bahwa solidaritas tidak mengenal batas wilayah administratif. Bengkalis dan Sumatera Barat dipisahkan oleh laut dan struktur pemerintahan yang berbeda, namun penderitaan kemanusiaan terbukti mampu meruntuhkan sekat-sekat tersebut. Di tengah kecenderungan menguatnya sikap individualistik dan pragmatis, tindakan PGRI Bengkalis hadir sebagai antitesis: bahwa empati masih hidup dan terorganisasi dengan baik.
Kedua, perlu digarisbawahi bahwa PGRI adalah organisasi profesi guru. Artinya, dana sebesar Rp420 juta tersebut sangat mungkin bersumber dari iuran, sumbangan sukarela, dan penggalangan solidaritas para pendidik. Ini memberi pesan kuat bahwa guru bukan hanya pengajar di ruang kelas, tetapi juga pendidik nilai di ruang sosial. Ketika guru bergerak membantu korban bencana, mereka sedang memberi pelajaran nyata tentang kemanusiaan, gotong royong, dan tanggung jawab sosial—pelajaran yang sering kali lebih bermakna daripada teori di buku teks.
Namun demikian, esai ini akan kehilangan ketajamannya jika hanya berhenti pada pujian. Bantuan besar dari organisasi masyarakat sipil seperti PGRI juga secara tidak langsung menyentil peran negara. Mengapa solidaritas horizontal harus bekerja begitu keras untuk menutup luka-luka akibat bencana? Apakah sistem mitigasi, respons darurat, dan rehabilitasi negara sudah cukup kuat? Di titik ini, aksi PGRI Bengkalis dapat dibaca sebagai alarm halus bahwa masih ada celah dalam tata kelola kebencanaan yang perlu diperbaiki secara serius.
Selain itu, transparansi dan keberlanjutan juga menjadi isu penting. Bantuan dana besar harus diiringi dengan pengelolaan yang akuntabel agar benar-benar menyentuh kebutuhan korban, bukan sekadar berhenti sebagai simbol kepedulian sesaat. Publik berhak berharap bahwa bantuan tersebut digunakan untuk kebutuhan paling mendesak: hunian sementara, pendidikan anak-anak korban bencana, dan pemulihan psikososial—terutama mengingat peran PGRI yang sangat dekat dengan dunia pendidikan.
Di sisi lain, tindakan ini memberi contoh konkret bagaimana organisasi profesi dapat mengambil peran strategis dalam krisis kemanusiaan. Selama ini, respons bencana sering didominasi oleh pemerintah dan lembaga besar. Kehadiran PGRI Bengkalis menunjukkan bahwa kekuatan masyarakat sipil, jika terorganisasi dengan baik, mampu menghimpun sumber daya signifikan dan menyalurkannya secara cepat. Ini adalah modal sosial yang sangat berharga bagi Indonesia, negara yang secara geografis rawan bencana.
Akhirnya, bantuan Rp420 juta dari PGRI Kabupaten Bengkalis bukan sekadar angka, melainkan narasi tentang kepedulian, tanggung jawab moral, dan perlawanan terhadap sikap apatis. Di tengah berita-berita yang sering dipenuhi konflik dan kepentingan sempit, kisah ini mengingatkan kita bahwa Indonesia masih memiliki denyut solidaritas yang kuat. Tantangannya kini adalah memastikan bahwa denyut itu tidak berhenti pada satu peristiwa, tetapi terus hidup sebagai budaya bersama—baik oleh masyarakat sipil maupun oleh negara.
Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Bengkalis menunjukkan kepedulian dan solidaritas kemanusiaan dengan menyalurkan bantuan senilai Rp 420 juta kepada masyarakat terdampak bencana di Provinsi Sumatera Barat.
Penyerahan bantuan dilakukan secara langsung oleh perwakilan PGRI bersama Pemerintah Kabupaten Bengkalis kepada Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, pada Selasa, 30 Desember 2025, dalam suasana penuh kehangatan dan kebersamaan.
Bantuan ini merupakan bentuk empati keluarga besar PGRI Kabupaten Bengkalis bersama Pemerintah Kabupaten Bengkalis terhadap masyarakat yang tengah menghadapi musibah bencana. Diharapkan dukungan tersebut dapat membantu meringankan beban korban sekaligus memperkuat semangat kebersamaan antar daerah.
Dalam sambutannya, Gubernur Mahyeldi menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada Bupati Bengkalis, jajaran Pemerintah Kabupaten Bengkalis, serta seluruh pihak yang terlibat, termasuk kepala sekolah, guru, dan siswa yang berpartisipasi dalam penggalangan dana tersebut.
Ketua PGRI Kabupaten Bengkalis, Peppi Sumanty, menegaskan bahwa bantuan itu merupakan hasil gotong royong keluarga besar PGRI di seluruh kecamatan di Kabupaten Bengkalis. Ia berharap bantuan ini tidak hanya meringankan beban materi, tetapi juga turut mempererat tali persaudaraan antara bangsa.
Kegiatan kemanusiaan ini menjadi bukti nyata solidaritas lintas daerah antara PGRI Kabupaten Bengkalis, Pemerintah Kabupaten Bengkalis, dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dalam membantu masyarakat yang terdampak bencana. SG*
Baca
https://www.potretkita.net/2026/01/bupati-yulianto-resmikan-kantor-ajo.html


.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar