Lubang Raksasa Misterius Bermunculan, Sawah Amblas di Sumatera Barat - PotretKita Online

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 07 Januari 2026

Lubang Raksasa Misterius Bermunculan, Sawah Amblas di Sumatera Barat


LIMAPULUH KOTA — Fenomena alam mengerikan menggegerkan masyarakat Sumatera Barat. Sebuah lubang raksasa misterius tiba-tiba muncul di tengah kawasan pertanian warga di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota. Lubang tersebut terus membesar, semakin dalam, dan dipenuhi air berwarna biru seperti telaga, memicu kecemasan warga dan memancing ribuan orang datang ke lokasi.


Peristiwa yang disebut sebagai sinkhole atau amblesan tanah ini terjadi pada Minggu, 4 Januari 2026 sekitar pukul 11.00 WIB. Awalnya, hanya berupa rekahan pada lahan sawah yang sebelumnya mengalami kekeringan akibat kemarau. Namun, dalam hitungan jam, tanah itu runtuh mendadak, menciptakan lubang menganga dengan diameter sekitar 20 meter dan kedalaman ±15 meter.


Yang membuat peristiwa ini semakin mencekam, dari dalam lubang terdengar suara gemuruh dan dentuman air, seolah ada aliran kuat di bawah tanah yang terus menggerus lapisan bumi.


Air Naik, Sawah Tenggelam, Warga Cemas

Dalam waktu kurang dari 24 jam, debit air di dalam lubang justru terus meningkat. Air meluap hingga menggenangi seluruh areal sawah di sekitarnya.


“Iya, air di dalam lubang sekarang makin naik ke atas sawah. Airnya seperti telaga biru. Saya cemas, air yang naik membuat lubang tambah besar,” ujar Adrolmios alias Si Ad (61), pemilik sawah, Senin (5/1).


Ia menuturkan, pamannya yang pertama kali melihat lubang tersebut muncul disertai suara gemuruh hingga kini masih trauma dan khawatir kejadian serupa akan terjadi di lokasi lain.


Kawasan yang terdampak merupakan lahan pertanian Pombatan, sumber penghidupan utama masyarakat setempat. Kini, aktivitas bertani lumpuh total. Sawah tergenang air, dan ribuan warga berdatangan silih berganti untuk melihat langsung fenomena yang disebut-sebut sebagai “lubang misterius”.


Polisi Pasang Garis Pengaman, Warga Diminta Menjauh

Untuk mencegah jatuhnya korban, Polsek Situjuah Limo Nagari langsung bertindak cepat dengan memasang police line di sekitar lokasi. Sejumlah personel disiagakan untuk mengatur kerumunan warga dan menjaga keamanan.


Plt Wali Nagari Situjuah Batua, Emil Nofri Ihsan Dt Rajo Simarajo, bersama Kepala Jorong Tepi, Salmi, membenarkan bahwa air dalam lubang terus bertambah dan telah menggenangi sawah di sekitarnya.


“Kondisinya masih berkembang. Kami minta warga tidak mendekat demi keselamatan,” ujar Emil.


Penjelasan Resmi Badan Geologi: Bukan Sinkhole Biasa

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akhirnya angkat bicara. Plt Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menegaskan bahwa fenomena ini bukan sinkhole pada umumnya yang biasanya terjadi di kawasan batugamping (karst).


“Fenomena amblesan di Kawasan Pertanian Pombatan ini terjadi bukan pada batugamping, melainkan pada endapan lapukan batuan vulkanik,” ujar Lana dalam keterangannya di Bandung, Selasa (6/1/2026).


Hasil analisis Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGTL) menunjukkan amblesan terjadi akibat proses erosi buluh—yakni pengikisan tanah oleh aliran air bawah permukaan yang membentuk saluran menyerupai pipa.


Erosi Buluh: Proses Senyap yang Mematikan

Menurut Lana, proses ini berlangsung perlahan dan terus-menerus, tidak terjadi secara tiba-tiba. Rekahan di permukaan tanah berfungsi sebagai jalur masuk air hujan ke dalam tanah. Air tersebut kemudian mengalir di bawah permukaan dan mengikis lapisan tanah halus, membentuk rongga-rongga besar.


“Kondisi ini menyebabkan air terperangkap dan mengalir secara lateral, mempercepat erosi buluh hingga akhirnya tanah permukaan runtuh,” jelas Lana.


Curah Hujan Tinggi dan Tata Guna Lahan Jadi Pemicu

Berdasarkan data BMKG, wilayah tersebut memiliki curah hujan tinggi dengan rata-rata 2.000–2.500 mm per tahun. Kombinasi curah hujan tinggi, tekstur tanah halus, rekahan tanah, serta tata guna lahan pertanian intensif dan sistem irigasi yang kurang baik memperbesar risiko terjadinya erosi buluh.


“Peristiwa seperti ini berpotensi terjadi di lokasi lain pada lahan pertanian sekitarnya,” tegas Lana.


Ia mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, segera melapor jika muncul retakan baru, dan tidak panik bila terdengar suara gemuruh dari dalam tanah.


DPRD Desak PVMBG Turun Tangan

Anggota Komisi II DPRD Limapuluh Kota, M. Fajar Rillah Vesky, yang meninjau langsung lokasi, mendesak agar BPBD Limapuluh Kota segera menyurati Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM.


“Koordinasi lisan saja tidak cukup. Harus ada kajian ilmiah langsung dari ahli PVMBG agar pemda bisa mengambil langkah antisipatif dan mencegah spekulasi liar di tengah masyarakat,” tegas Fajar.


Ia juga menekankan pentingnya tindakan tanggap darurat, termasuk bantuan bagi para petani yang kehilangan sumber penghasilan akibat sawahnya tak lagi bisa digarap.


Ancaman Nyata di Balik Keindahan Telaga Biru

Meski tampak indah seperti telaga alami, air biru di dalam sinkhole justru menyimpan ancaman serius. Rongga bawah tanah yang masih aktif berpotensi terus membesar dan memicu amblesan susulan.


Fenomena ini menjadi peringatan keras bahwa bencana geologi tidak selalu datang dalam bentuk gempa atau letusan gunung api. Di balik tanah pertanian yang tampak tenang, bahaya bisa mengintai secara senyap.


Kini, warga Limapuluh Kota hanya bisa berharap kajian cepat dari para ahli mampu mengungkap misteri di balik lubang raksasa ini sekaligus mencegah jatuhnya korban dan meluasnya bencana.


Lubang raksasa di Limapuluh Kota bukan sekadar fenomena geologi. Ia adalah peringatan keras dari tanah—bahwa ada proses alam yang bekerja diam-diam, sementara manusia dan negara sering terlambat membaca tanda-tandanya. Di balik keindahan air biru yang tampak seperti telaga wisata, tersimpan ancaman yang bisa menelan sawah, rumah, bahkan nyawa.


Fenomena amblesan tanah ini menampar satu ilusi lama: bahwa bencana hanya datang lewat gempa besar atau letusan gunung api. Padahal, di Sumatera Barat, bencana juga bisa lahir dari proses senyap—erosi bawah tanah yang bekerja perlahan, nyaris tak terdengar, sampai akhirnya tanah runtuh tanpa kompromi.


Sawah yang amblas di Pombatan bukan tanah kosong. Ia adalah ruang hidup. Di sanalah petani menggantungkan musim tanam, menyekolahkan anak, dan mempertahankan dapur tetap mengepul. Ketika sawah tenggelam oleh air biru, yang hilang bukan hanya lahan pertanian, tetapi keamanan ekonomi masyarakat kecil.


Penjelasan Badan Geologi tentang erosi buluh memang penting. Ia memberi kepastian ilmiah dan meredam spekulasi mistis. Namun ilmu pengetahuan saja tidak cukup jika tidak diterjemahkan menjadi kebijakan cepat dan perlindungan nyata. Peringatan bahwa peristiwa serupa bisa terjadi di lokasi lain seharusnya membuat pemerintah bergerak lebih cepat, bukan sekadar mengeluarkan imbauan agar warga “tetap tenang”.


Persoalan ini membuka pertanyaan yang lebih tajam: sejauh mana pemetaan risiko geologi benar-benar menjadi dasar tata guna lahan pertanian? Jika wilayah dengan tanah lapukan halus, curah hujan tinggi, dan sistem irigasi buruk tetap dibiarkan tanpa mitigasi serius, maka bencana berikutnya bukan lagi soal “jika”, melainkan “kapan”.


Kerumunan warga yang datang melihat lubang raksasa adalah potret lain dari kegagalan mitigasi. Ketika edukasi kebencanaan minim, rasa ingin tahu bercampur ketakutan justru bisa menambah risiko korban. Garis polisi memang perlu, tetapi yang lebih mendesak adalah kehadiran negara dengan penjelasan yang jujur, terbuka, dan berkelanjutan.


Desakan DPRD agar PVMBG turun langsung ke lapangan patut dicatat sebagai langkah benar. Dalam situasi seperti ini, negara tidak boleh ragu mengerahkan otoritas ilmiah tertinggi. Bukan hanya untuk menutup mulut spekulasi, tetapi untuk menyelamatkan masa depan wilayah pertanian yang menjadi tulang punggung pangan daerah.


Telaga biru itu mungkin tampak indah di mata kamera. Namun bagi petani, ia adalah simbol ketidakpastian. Keindahan semu yang menutupi bahaya nyata. Jika negara terlambat bertindak, telaga itu bisa menjadi awal dari lubang-lubang lain—baik di tanah, maupun di kepercayaan publik.


Sumatera Barat hari ini diingatkan: alam selalu berbicara lebih dulu. Persoalannya, apakah kita mau mendengar sebelum tanah kembali runtuh. MND*

Baca Juga

https://www.potretkita.net/2026/01/kiprah-iklb-jabodetabek-dan-ap3mi.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here